WHO IM I?
Sebenarnya siapakah kita? Mungkinkah mausia adalah evolusi dari kera? Lalu bagaimana dengan kisah Adam dan Hawa? Mungkinkah mereka dalam wujud kera juga sebagai hasil dari evolusi? Tentu saja
hal tersebut tidak mungkin. Nah, apakah masih mau bersikeras, kalau manusia
awalnya dari kera?
Manusia adalah ciptaan Allah SWT. Allah mempunyai kekuatan besar untuk mematikan
(mengambil kembali) makhluk ciptaan-Nya. Jadi, kematian adalah hukum Allah yang
pasti. Ruh yang tiada itu tentu saja akan kembali pada Allah dengan proses yang
tak terjangkau akal kita.
PROSES PENCIPTAAN
MANUSIA
Dalam Al-Quran,
Allah SWT. menjelaskan kronologis kejadian penciptaan manusia. Mulai dari bahan
baku penciptaannya, proses perkembangannya, dan pertumbuhannya dalam rahim ibu,
hingga ia kemudian dimatikan dan dibangkitkan kembali dari kematian itu.
Kronologis penciptaan manusia itu ketika dikomparasikan dengan ilmu pengetahuan
modern dengan analisis ilmiahnya saat ini, sedikitpun tidak ditemukan
pertentangan. Perhatikanlah ayat Al-Quran di bawah ini :
“Hai
manusia jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka
ketahuilah sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari
setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang
sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu
dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang telah
ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan
berangsur-angsur) kamu sampai pada kedewasaan, dan diantara kamu ada yang
diwafatkan dan ada pula yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia
tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dulu diketahuinya. Dan kamu lihat bumi
ini kering, kemudian apabila telah kami turunkan air di atasnya, hidup dan
suburlah bumi itu dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.” (Al-Hajj
: 5)
Masih ada lagi
ayat yang berbicara tentang proses penciptaan manusia. Ini khusus berkaitan
dengan janin di dalam rahim yang mengalami 3 kegelapan. Berikut ayatnya:
“…Dia
menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan.
Yang berbuat demikian itu adalah Allah…” (Az-Zumar: 6)
Tiga
kegelapan yang dimaksud ayat tersebut adalah kegelapan dalam perut, kegelapan
dalam rahim dan kegelapan dalam selaput yang menutup janin dalam rahim. Seperti
yang telah dijelaskan dalam QS. Az-Zumar ayat 6. Hal ini juga tidak
terbantahkan secara ilmiah.
Lebih
jelas lagi, ayat Al-Quran yang menggambarkan proses penciptaan manusia adalah
pada QS. Al-Mukminun ayat 12-14, yang artinya :
“Dan
sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari saripati yang (berasal ) dari
tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat
yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu
segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami
jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami balut dengan daging.
Lalu Kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah,
Pencipta yang paling baik.” (Al-Mukminun: 12-14)
Dari
ayat diatas ada 2 kesimpulan isi kandungan ayat tersebut, yaitu :
a. Penegasan Allah SWT.
bahwa manusia merupakan makhluk ciptaan-Nya yang asal kejadiannya berasal dari
saripati tanah. Bagaimana menurut ilmu pengetahuan mengenai asal kejadian
manusia? Menurut ilmu Biologi, manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan asal
kejadiannya adalah dari tanah. Hal ini telah dibuktikan dengan menggunakan
metode abu bekas bakaran dari makhluk hidup tersebut. Hasil penelitian abu
bekas bakaran tersebut diketahui bahwa unsur-unsur asli yang terdapat dalam
diri manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan sama dengan unsur-unsur yang terdapat
dalam tanah, yaitu, oksigen, hidrogen, zat belerang, zat arang, kalium,
natrium, iodium, asam arang, air, dan zat-zat lainnya yang berfungsi sebagai
pelengkap.
b. Informasi dari Allah SWT. tentang proses kejadian manusia ketika masih berada dalam kandungan.
Sesuai ayat tersebut,
proses kejadian manusia dalam kandungan yaitu :
· Allah SWT menjadikan
saripati tanah yang terdapat dalam tubuh manusia sebagai nutfah (air
yang berisi spermatozoa), yang kemudian ditumpahkan ke dalam qarar
(rahim)
· Allah SWT. menjadikan nutfah
sebagai alaqah yang berbentuk gumpalan darah menyerupai buah lecis atau
lintah.
· Dari alaqah,
Allah SWT. menjadikannya sebagai mudghoh, yaitu segumpal daging yang
menyerupai daging hancur yang telah dikunyah.
·
Dari mudghoh,
Allah SWT. menjadikannya sebagai idzam, yaitu tulang atau rangka.
·
Kemudian tulang atau
rangka itu dibalut oleh daging.
·
Setelah itu Allah SWT.
menjadikannya sebagai makhluk dalam bentuk lain yaitu dalam bentuk manusia yang
telah berkepala, berbadan, bertangan dan berkaki.
BAGAIMANA PANDANGAN ILMU PENGETAHUAN TENTANG PROSES KEJADIAN MANUSIA?
Menurut
ilmu biologi, spermatozoa yang berasal dari laki-laki (suami) melalui proses
senggama masuk ke dalam qarar (rahim) wanita (istri). Di dalam rahim,
spermatozoa ini bertemu dengan sel telur atau ovum istri sehingga terjadi
pembuahan. Sel telur yang telah dibuahi disebut zigot, kemudian
mengalami nidasi atau menempal pada salah satu dinding rahim. Pada titik itulah
ia membesar dengan sistem perkembangan sel, yaitu membelah diri dari satu
menjadi 2, 4, 8, 16, 32, dan seterusnya menurut deret ukur, menjadi berkas
sel-sel yang berbentuk seperti buah murbei. Kemudian tumbuh memanjang, gepeng
seperti lintah, kedua ujungnya melekat pada dua titik pada dinding rahim, lalu
salah satu ujungnya lepas dan terbentuklah segumpal daging yang dihubungkan
dengan seutas tali ke dinding rahim ibunya. Dalam proses selanjutnya, daging
itu tumbuh menjadi tulang yang beruas-ruas panjang, kemudian berkembang menjadi
kerangka badan yang lengkap serta otot menutupi tulang-tulang itu. Sesudah 120
hari atau 4 bulan masa kandungan, maka
jabang bayi sudah lengkap dengan segala organ-organ tubuh sebagai manusia dan
setelah sembilan bulan sepluh hari bayi tersebut siap dilahirkan.
Unsur Manusia
Manusia
hidup dari rangkaian unsur-unsur tertentu yang menyusun struktur
kepribadiannya. Allah menciptakan manusia melalui dua tahap. Allah pertama kali
menciptakan jasadnya, kemudian meniupkan ruh ke dalam jasad itu, sebagaimana
pernyataan Allah SWT. dalam ayat di bawah ini :
“Maka
apabila Aku telah menyempurnakan (penciptaan jasadnya), lalu Kutiupkan dari
ruh-Ku ke dalamnya, maka bersujudlah kamu sekalian kepadanya.” (Shaad: 72)
Jadi,
dua unsur utama dalam kepribadian manusia adalah unsur materi yaitu fisik
manusia dan unsur ruh yaitu hati dan jiwa manusia. Selain dua unsur tersebut
ada satu unsur yang membuat manusia menjadi makhluk Allah yang sempurna
dibandingkan hewan dan tumbuhan, unsur tersebut adalah akal.
Ruh
merupakan zat yang tak terlihat, tetapi hakekat ruh itu terasa eksistensinya
dalam jiwa manusia. Fungsi utama ruh
untuk merasakan, meyakini, menghendaki, dan memutuskan. Rasulullah saw
mengatakan bahwa di dalam jasad ada segumpal daging. Bila daging itu baik, maka
baiklah seluruh jasad. Namun bila daging itu rusak, maka rusaklah seluruh
jasad. Segumpal daging itu adalah hati manusia, dalam hal ini konteks
pembahasan hati bukanlah hati secara fisik, walaupun hepar juga sangat
menentukan kesehatan tubuh.
Akal
adalah unsur dalam diri manusia yang berfungsi untuk menampung dan memahami informasi yang disimpan dalam otak,
kemudian diproses dalam hati. Karena itulah Al-Quran sering menyatakan bahwa
kerja akal itu dalam hati, sebab memang tidak ada jeda waktu dari proses-proses
itu. Selanjutnya hasil keputusan hati itu akan menjadi tekad. Dari tekad akan
turun ke wilayah fisik menjadi sikap dan tindakan.
Fisik
atau jasad memiliki tugas utama yaitu mengekspresikan
kehendak dalam bentuk sikap dan tindakan yang diarahkan oleh akal dan keputusan
jiwa. Oleh karena itu fisik adalah kendaraan bagi akal dan jiwa kita. Para
ulama Islam mengatakan, “Jika engkau mempunyai jiwa besar, niscaya ragamu akan
lelah mengikuti kehendaknya.” Jadi kendaraan ini harus di up-grade
kemampuannya dan dipelihara terus menerus, agar sanggup membawa beban akal dan jiwa
kita. Sebab setiap masalah yang menimpa kendaraan ini akan mempengaruhi kondisi
akal dan jiwa kita.
Ketiga
unsur manusia tersebut, adalah kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dan
pemenuhan kebutuhannya pun harus seimbang. Bayangkan jika kita hanya memenuhi
kebutuhan ruh dan fisik, maka kita akan menjadi manusia bodoh yang tidak
mengetahui perkembangan zaman. Atau kita hanya memenuhi kebutuhan akal dan
fisik saja, maka bisa dipastikan kita menjadi manusia yang tidak mengenal Allah
bahkan mengingkari-Nya. Karena itu, jika kuliah/belajar kita rajin, makan dan
tidur kita teratur, maka ibadah dan shalat kita juga harus teratur. Itulah yang
dimaksud keseimbangan (tawazun).
-Buku panduan dan monitoring AAI-